Pekerjaan Jodoh dan Sifat Wanita Menurut Zodiaknya

Bagaimanakah sifat yang baik dan jelek wanita menurut zodiak? Pria berzodiak apakah yang cocok sebagai pasangannya? Seperti apakah sifat wanita menurut zodiaknya? Temukan jawabannya,.....

Aksara Jawa Angka dan Pasangan

Cara menulis aksara jawa dilengkapi dengan kumpulan aksara jawa dan pasangan, bagaimanakah cara menulis aksara jawa yang benar? mari kita simak lebih lanjut,...

10 Cara Ibu Bantu Suami Menghasilkan Uang Di rumah

Seorang ibu tidak hanya dapat mengurus anak, suami, keluarga dan pekerjaan rumah lainnya, ibu juga bisa bantu suami mencari uang tambahan tanpa menganggu rutinitas mereka sehari hari. Bagai mana caranya? Silahkan anda simak ceritanya..

Lowongan Network Marketing Terbaru PT CCF

Informasi Lowongan Terbaru 2013 terupdate, bergabunglah bersama ratusan Pencari Kerja lainnya. Untuk perusahaan dapat memasang iklan lowongan kerja dengan GRATIS. Silahkan Kunjungi situs kami ikutkerja.com

Pasang iklan Anda

Space Iklan untuk anda, dapat berupa blog, website, bisnis, barang, properti dan jenis iklan lainnya ini kami sediakan untuk anda.

Sabtu, 07 Desember 2013

Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa

Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa menyimpan cerita yang mengandung nasihat, dan pesan dari leluhur yang banyak digunakan saat ini. Bagaimanakah sejarah tanah jawa dan aksara jawa yang biasa kita pelajari saat sekolah dasar?

Dimulai pada masa kerajaan Medang Kamulyan yang saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Dewata Cengkar. Pada suatu ketika sang prabu meminta kepada juru masak kerajaan untuk memasak gulai kambing. Pada saat memakan gulai tersebut, Prabu Dewata Cengkar terkejut saat mengunyah sebuah tulang kecil dibalut daging. Rasanya sangat enak dan berbeda dengan tulang lainnya yang terdapat dalam gulai tersebut. 

Kemudian dia memanggil sang juru masak dan menanyakan tulang lezat yang barusan dia makan. Namun sang juru masak tidak mau mengatakannya, sampai akhirnya Prabu Dewata Cengkar marah dan mengancam akan membunuh juru masak itu jika tidak mau mengatakan  asal usul tulang yang dia makan. Karena takut sang juru masak pun menjawab yang ternyata tulang tersebut adalah jari telunjuknya yang teriris saat memotong tulang kambing.

Dengan tertawa terbahak bahak Prabu Dewata Cengkar memanggil pengawalnya,.. “Pengawal,...tangkap juru masak,...ikat dia,..cincang tubuhnya dan masak dia!” 

Akhirnya tubuh sang juru masak benar benar dimasak sang prabu, karena dia merasakan sensasi kelezatan luar biasa yang belum pernah dia rasakan pada masakan sebelumnya. Hal tersebut menjadikan Prabu Dewata Cengkar ketagihan masakan daging manusia. Berita menyebar,..warga ketakutan dan mulai meninggalkan Medang Kamulyan karena kebiasaan raja mereka yang mengerikan.

Kejadian ini membuat kahyangan gempar dan mengusik Aji Saka untuk segera turun memberikan pelajaran pada Prabu Dewata Cengkar. Aji saka menyamar menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan didampingi dua abdi setianya Dora dan Sembodo. Aji Saka melepas pakaiannya sebelum berangkat ke Medang Kamulyan dan berpesan kepada Sembodo agar menjaga pakaian yang menjadi pusaka miliknya dan tidak memberikannya pada siapapun kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya.

Aji Saka berangkat bersama Dora menuju kekerajaan Medang Kamulyan untuk menemui Prabu Dewata Cengkar untuk memastikan kabar berita adanya seorang raja yang suka memakan daging manusia. 

Ternyata benar, begitu sampai didepan istana Aji Saka ditangkap dan Prabu Dewata Cengkar menyuruh pengawalnya untuk memasak tubuh Aji Saka. Aji Saka bersedia dimasak tapi dia mengajukan sebuah permintaan. Dia meminta agar raja memberikannya sejengkal tanah sesuai ukuran badannya untuk mengubur bagian tubuhnya yang tidak dimakan oleh raja . Dengan sombong raja berkata “Ha,..ha,..ha,.. jangankan sejengkal, kamu minta satu alun alun pasti akan kuturuti permintaanmu!” Aji Saka lalu merebahkan tubuhnya ditanah dan meminta sang raja untuk mengukur panjang tubuhnya.

Prabu Dewata Cengkar mulai mengukurnya dari ujung rambut akan tetapi sudah seharian dan hampir seluas kerajaan belum juga sampai pada ujung kaki Aji Saka karena kesaktiannya. Sampai akhirnya sang raja sampai di jurang dekat lautan dan karena lengah Prabu Dewata Cengkar terjatuh dan menemui ajalnya. 
Aji Saka berhasil membunuh raja Medang Kamulyan dan memberitahukan kabar berita ini keseluruh negri. Rakyat yang mendengar berita tersebut berbondong bondong kembali ke Medang Kamulyan. Karena raja mereka telah mati akhirnya rakyat mengangkat Aji Saka sebagai raja mereka. Aji Saka menerimanya dan memberi nama Tanah Jawi (Jawa) untuk kerajaan barunya.

Aji Saka teringat pusaka yang dititipkan kepada Sembodo abdi setianya sebelum berangkat. Dia menyuruh Dora untuk mengambil pakaian yang merupakan pusakanya tersebut. Dora berangkat menemui Sembodo akan tetapi Sembodo tidak mau memberikan pusaka itu karena teringat pesan Aji Saka tuannya untuk tidak memberikan pada siapapun kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Terjadilah pertengkaran sengit karena Dora tidak mau pulang dengan tangan kosong. Sampai akhirnya perkelahian tidak terhindarkan demi menjaga amanat masing masing. 

Aji Saka mulai gelisah karena abdinya tak kunjung datang, dan diapun pergi untuk menyusulnya. Sesampainya disana, Aji Saka terkejut melihat kedua abdi setianya sudah menjadi mayat. Dia tersadar telah memberi pesan kepada Sombodo untuk menjaga pakaiannya dan pada Dora untuk mengambilnya. Sedih dan kalut menyelimuti jiwa Aji Saka sampai akhirnya dia berteriak dengan suara yang aneh dan terdengar sangat keras keseluruh negeri sampai mengguncang kahyangan.

Rakyat berdatangan menuju lokasi suara dan melihat raja mereka berada disana sambil terus berteriak aneh. Seorang rakyat bertanya pada raja mereka ada apa dengan Aji Saka hingga dia begitu kalut dan sedih sampai berteriak seperti itu.

Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa

Aji Saka bangkit dan menjelaskan teriakannya yang berbunyi :
“Hana Caraka, Data Sawala, Pada Jayanya, Maga bathanga” yang memiliki arti “Dua utusan yang saling berselisih sama kuatnya inilah mayatnya” yang sekarang menjadi aksara jawa yang kita kenal. Dia juga berpesan kepada rakyatnya untuk selalu mengingatnya karena saat itu adalah saat paling Kalut untuk Tanah Jawa.

Demikian kisah Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa semoga bermanfaat dan memberikan wawasan baru untuk kita dalam hal Seni Jawa Kuno

Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno, Updated at: 09.16

Senin, 07 Januari 2013

6 Manfaat Daun Pepaya Sebagai Obat Herbal

Manfaat Daun Pepaya Sebagai Obat Herbal Pepaya (Carica papaya L.), atau betik adalah tumbuhan yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan, dan kini menyebar luas dan banyak ditanam di seluruh daerah tropis untuk diambil buahnya. C. papaya adalah satu-satunya jenis dalam genus Carica. Nama pepaya dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Belanda, "papaja", yang pada gilirannya juga mengambil dari nama bahasa Arawak, "papaya". Dalam bahasa Jawa pepaya disebut "katès" dan dalam bahasa Sunda "gedang".

Buah pepaya dimakan dagingnya, baik ketika muda maupun masak. Daging buah muda dimasak sebagai sayuran. Daging buah masak dimakan segar atau sebagai campuran koktail buah. Pepaya dimanfaatkan pula daunnya sebagai sayuran dan pelunak daging. Daun pepaya muda dimakan sebagai lalap (setelah dilayukan dengan air panas) atau dijadikan pembungkus buntil. Oleh orang Manado, bunga pepaya yang diurap menjadi sayuran yang biasa dimakan. Getah pepaya (dapat ditemukan di batang, daun, dan buah) mengandung enzim papain, semacam protease, yang dapat melunakkan daging dan mengubah konformasi protein lainnya. Papain telah diproduksi secara massal dan menjadi komoditas dagang. Daun pepaya juga berkhasiat obat dan perasannya digunakan dalam pengobatan tradisional untuk menambah nafsu makan.

Tahukah anda ternyata daun pepaya dapat dijadikan obat untuk :

Kanker Kulit, Benjolan Tumor, Varises, Bintik Kulit, Jerawat, dan Obat Kejang

Dengan cukup menggunakan ramuan sederhana. Yaitu :

Bahan
  • Daun Pepaya
  • Gula batu secukupnya


Cara pembuatan :
  • Daun pepaya di rebus dalam 3 liter air.
  • Direbus terus hingga tersisa 1 liter lalu masukan gula batu.
 
Cara pemakaian :
  • Minum 3x sehari 1 gelas

Ternyata Manfaat Daun Pepaya Sebagai Obat Herbal sungguh sangat luar biasa dan mudah cara pembuatannya.

Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno, Updated at: 22.38

Selasa, 01 Januari 2013

22 Arti Tahi Lalat Pada Wanita

Pernahkah anda melihat tahi lalat pada tubuh wanita? Dalam Seni Jawa Kuno warisan kakek leluhur tanah jawa, setiap tanda ( Tahi Lalat ) dalam tubuh wanita ternyata memiliki arti dan makna tersendiri. Dalam kesempatan kali ini, Seni Jawa Kuno akan menguak tabir 22 Arti Tahi Lalat Pada Wanita.

1. Bibir bawah / atas : Banyak rezeki dan banyak yang mencintai.

2. Pipi kanan : Memiliki jiwa sosial yang tinggi, Dermawan.

3. Pipi kiri : Suka royal, banyak godaan

4. Alis sebelah kanan : Memiliki tanggung jawab yang besar.

5. Alis sebelah kiri : Suka mementingkan diri sendiri ( Egois )

6. Dahi kiri : Tahan terhadap ujian, memiliki otak yang cerdas.

7. Dahi kanan : Memiliki pengalaman yang luas.

8. Dagu : Banyak bicara, akan tetapi tidak dapat dipercaya.

9. Bahu kanan : Memiliki pendirian yang tidak tetap / selalu ragu ragu.

10. Bahu kiri : Memiliki pendirian yang tetap, tabah, teliti akan tetapi tidak pandai menyimpan sesuatu.

11. Kaki kanan : Pandai, ahli / pintar memilih pakaian.

12. Kaki kiri : Kuat berjalan.

13. Telapak tangan : Tenang, keras hati dan berat pukulannya.

14. Dada : Pukulannya berat, keras hati.

15. Hidung : Banyak rezekinya, tapi suka hura hura, royal dan banyak mencintai.

16. Lutut kanan / kiri : Gembira, kuat berjalan kemudian menyesal.

17. Telinga kanan : Keras hati dan royal.

18. Telinga kiri : Mudah marah.

19. Lengan : Kuat, berani dan sedikit bicara.

20. Ujung lengan : Dapat menyimpan rahasia.

21. Perut : Baik hati, lemah lembut, mudah terpengaruh.

22. Pergelangan tangan : Pemboros, cerewet, banyak bicara.

Demikian 22 Arti Tahi Lalat Pada Wanita, sebagai warisan budaya. Anda boleh percaya, boleh juga tidak semua terserah dari sudut pandang mana anda menilainya.

Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno, Updated at: 04.12

Senin, 24 Desember 2012

Aksara Jawa Angka dan Pasangan

Inilah beberapa contoh Aksara Jawa Angka dan Pasangan






 Demikian contoh Aksara Jawa Angka dan Pasangan semoga bermanfaat

Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno, Updated at: 10.19

Tanda Dan Ciri Pranata Mangsa Warisan Budaya Indonesia

Dalam Seni Jawa Kuno Warisan Budaya Indonesia ada beberapa musim yang disebut Pranata Mangsa. Bagi para orang tua Pranata Mangsa mungkin sudah tidak asing lagi terdengar, tapi bagi para anak2 dan pemuda/pemudi masa kini mungkin banyak yang tidak mengetahuinya. Tidak bisa dipungkiri, karena perkembangan jaman yang semakin pesat dan banyaknya ilmu pengetahuan modern yang mereka dapat membuat mereka lupa pada warisan budaya indonesia. Dalam kesempatan kali ini Seni Jawa Kuno akan membeberkan Tanda Dan Ciri Pranata Mangsa Warisan Budaya Indonesia.

Pranata mangsa (bahasa Jawa pranåtåmångså, berarti "ketentuan musim") adalah semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

No.
Hamaning Mangsa
Waktu Mangsa
Umur Wastu
Wuntu
1.
Kasa (kartika)
22 Juni – 1 Agustus
41
41
2.
Karo (poso)
2 Agustus – 24 Agustus
23
23
3.
Katelu
25 Agustus – 17 September
24
24
4.
Kapat (sitra)
18 Sepetember – 12 Oktober
25
25
5.
Kalima (manggala)
13 Oktober – 8 November
27
27
6.
Kanem (naya)
9 November – 21 Desember
43
43
7.
Kapitu (palguna)
22 Desember – 2 Februari
43
43
8.
Kawolu (wasika)
3 Februari – 28 Februari
26
27
9.
Kasanga (jita)
1 Maret – 25 Maret
25
25
10.
Kasadasa (srawana)
26 Maret – 18 April
24
24
11.
Dhesta (pradawana)
19 April – 11 Mei
23
23
12.
Sadha (asuji)
12 Mei – 21 Juni
41
41



365
366

1. Kasa (Kartika) 
  • Mangsa utama : Ketiga - Terang
  • Rentang Waktu : 22 Juni – 1 Ags (41 hari)
  • Candra : Sesotya murcå ing embanan ("Intan jatuh dari wadahnya" > daun-daun berjatuhan)
  • Ciri - ciri : Daun-daun berguguran, kayu mengering; belalang masuk ke dalam tanah
  • Tuntunan Bagi Petani : Saatnya membakar jerami; mulai menanam palawija
2.  Karo (Pusa)
  • Mangsa utama : Ketiga - Paceklik
  • Rentang Waktu : 2 Ags – 24 Ags (23 hari)
  • Candra : Bantålå rengkå ("bumi merekah")
  • Ciri - ciri : Tanah mengering dan retak-retak, pohon randu dan mangga mulai berbunga
  • Tuntunan Bagi Petani : -
3. Katelu (Manggasri)
  • Mangsa utama : Ketiga - Semplah
  • Rentang Waktu : 25 Ags – 18 Sept (24 hari)
  • Candra : Sutå manut ing båpå ("anak menurut bapaknya")
  • Ciri - ciri : Tanaman merambat menaiki lanjaran, rebung bambu bermunculan
  • Tuntunan Bagi Petani : Palawija mulai dipanen
4.  Kapat (Sitra)
  • Mangsa utama : Labuh - Semplah
  • Rentang Waktu : 19 Sept – 13 Okt (25 hari)
  • Candra : Waspå kumembeng jroning kalbu ("Air mata menggenang dalam kalbu" > mata air mulai menggenang)
  • Ciri - ciri : Mata air mulai terisi; kapuk randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur
  • Tuntunan Bagi Petani : Panen palawija; saat menggarap lahan untuk padi gaga
5. Kalima (Manggakala)
  • Mangsa utama : Labuh - Semplah
  • Rentang Waktu : 14 Okt – 9 Nov (27 hari)
  • Candra : Pancuran mas sumawur ing jagad ("Pancuran emas menyirami dunia")
  • Ciri - ciri : Mulai ada hujan besar, pohon asam jawa mulai menumbuhkan daun muda, ulat mulai bermunculan, laron keluar dari liang, lempuyang dan temu kunci mulai bertunas
  • Tuntunan Bagi Petani : Selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga
6.  Kanem (Naya)
  • Mangsa utama : Labuh - Udan
  • Rentang Waktu : 10 Nov – 22 Des (43 hari)
  • Candra : Råså mulyå kasuciyan
  • Ciri - ciri : Buah-buahan (durian, rambutan, manggis, dan lain-lainnya) mulai bermunculan, belibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair
  • Tuntunan Bagi Petani : Para petani menyebar benih padi di pembenihan
7. Kapitu (Palguna)
  • Mangsa utama : Rendheng - Udan
  • Rentang Waktu : 23 Des – 3 Feb (43 hari)
  • Candra : Wiså kéntir ing marutå ("Racun hanyut bersama angin" > banyak penyakit)
  • Ciri - ciri : Banyak hujan, banyak sungai yang banjir
  • Tuntunan Bagi Petani : Saat memindahkan bibit padi ke sawah
8.  Kawolu (Wisaka)
  • Mangsa utama : Rendheng - Pangarep-arep
  • Rentang Waktu : 4 Feb – 28/29 Feb (26/27 hari)
  • Candra : Anjrah jroning kayun ("Keluarnya isi hati" > musim kucing kawin)
  • Ciri - ciri : Musim kucing kawin; padi menghijau; uret mulai bermunculan di permukaan
  • Tuntunan Bagi Petani : -
9. Kasanga (Jita)
  • Mangsa utama : Rendheng - Pangarep-arep
  • Rentang Waktu : 1 Mar – 25 Mar (25 hari)
  • Candra : Wedharing wacånå mulyå ("Munculnya suara-suara mulia" > Beberapa hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis)
  • Ciri - ciri : Padi berbunga; jangkrik mulai muncul; tonggeret dan gangsir mulai bersuara, banjir sisa masih mungkin muncul, bunga glagah berguguran
  • Tuntunan Bagi Petani : -
10. Kasadasa (Srawana)
  • Mangsa utama : Marèng - Pangarep-arep
  • Rentang Waktu : 26 Mar – 18 Apr (24 hari)
  • Candra : Gedhong mineb jroning kalbu ("Gedung terperangkap dalam kalbu" > Masanya banyak hewan bunting)
  • Ciri - ciri : Padi mulai menguning, banyak hewan bunting, burung-burung kecil mulai menetas telurnya
  • Tuntunan Bagi Petani : -

11. Dhesta / Hapit Lemah (Padrawana)
  • Mangsa utama : Marèng - Panèn
  • Rentang Waktu :  19 Apr – 11 Mei (23 hari)
  • Candra : Sesotyå sinåråwèdi ("Intan yang bersinar mulia")
  • Ciri - ciri : Burung-burung memberi makan anaknya, buah kapuk randu merekah
  • Tuntunan Bagi Petani : Saat panen raya génjah (panen untuk tanaman berumur pendek)
12. Sadha / Hapit Kayu (Asuji)
  • Mangsa utama : Marèng - Terang
  • Rentang Waktu : 12 Mei – 21 Juni (41 hari)
  • Candra : Tirtå sah saking sasånå ("Air meninggalkan rumahnya" > jarang berkeringat karena udara dingin dan kering)
  • Ciri - ciri : Suhu menurun dan terasa dingin (bediding)
  • Tuntunan Bagi Petani : Saatnya menanam palawija: kedelai, nila, kapas, dan saatnya menggarap tegalan untuk menanam jagung.
Para pendahulu kita sudah menggunakan Tanda Dan Ciri Pranata Mangsa Warisan Budaya Indonesia diatas yang diwariskan secara turun temurun. Tapi pada masa modern sekarang ini sudah banyak yang meninggalkannya. Perubahan cuaca dan iklim yang tidak dapat diprediksi memang sudah merusak Pranata Mangsa. Akan tetapi jika kita kaji lebih dalam tentunya itu menjadi tanggung jawab kita bersama yang telah merusak keseimbangan alam. Pembalakan liar, polusi udara, pencemaran lingkungan dll telah merusak Tanda Dan Ciri Pranata Mangsa Warisan Budaya Indonesia.

Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno, Updated at: 09.55
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Seni Jawa Kuno. Diberdayakan oleh Blogger.