Sabtu, 07 Desember 2013

Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa

Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa menyimpan cerita yang mengandung nasihat, dan pesan dari leluhur yang banyak digunakan saat ini. Bagaimanakah sejarah tanah jawa dan aksara jawa yang biasa kita pelajari saat sekolah dasar?

Dimulai pada masa kerajaan Medang Kamulyan yang saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Dewata Cengkar. Pada suatu ketika sang prabu meminta kepada juru masak kerajaan untuk memasak gulai kambing. Pada saat memakan gulai tersebut, Prabu Dewata Cengkar terkejut saat mengunyah sebuah tulang kecil dibalut daging. Rasanya sangat enak dan berbeda dengan tulang lainnya yang terdapat dalam gulai tersebut. 

Kemudian dia memanggil sang juru masak dan menanyakan tulang lezat yang barusan dia makan. Namun sang juru masak tidak mau mengatakannya, sampai akhirnya Prabu Dewata Cengkar marah dan mengancam akan membunuh juru masak itu jika tidak mau mengatakan  asal usul tulang yang dia makan. Karena takut sang juru masak pun menjawab yang ternyata tulang tersebut adalah jari telunjuknya yang teriris saat memotong tulang kambing.

Dengan tertawa terbahak bahak Prabu Dewata Cengkar memanggil pengawalnya,.. “Pengawal,...tangkap juru masak,...ikat dia,..cincang tubuhnya dan masak dia!” 

Akhirnya tubuh sang juru masak benar benar dimasak sang prabu, karena dia merasakan sensasi kelezatan luar biasa yang belum pernah dia rasakan pada masakan sebelumnya. Hal tersebut menjadikan Prabu Dewata Cengkar ketagihan masakan daging manusia. Berita menyebar,..warga ketakutan dan mulai meninggalkan Medang Kamulyan karena kebiasaan raja mereka yang mengerikan.

Kejadian ini membuat kahyangan gempar dan mengusik Aji Saka untuk segera turun memberikan pelajaran pada Prabu Dewata Cengkar. Aji saka menyamar menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan didampingi dua abdi setianya Dora dan Sembodo. Aji Saka melepas pakaiannya sebelum berangkat ke Medang Kamulyan dan berpesan kepada Sembodo agar menjaga pakaian yang menjadi pusaka miliknya dan tidak memberikannya pada siapapun kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya.

Aji Saka berangkat bersama Dora menuju kekerajaan Medang Kamulyan untuk menemui Prabu Dewata Cengkar untuk memastikan kabar berita adanya seorang raja yang suka memakan daging manusia. 

Ternyata benar, begitu sampai didepan istana Aji Saka ditangkap dan Prabu Dewata Cengkar menyuruh pengawalnya untuk memasak tubuh Aji Saka. Aji Saka bersedia dimasak tapi dia mengajukan sebuah permintaan. Dia meminta agar raja memberikannya sejengkal tanah sesuai ukuran badannya untuk mengubur bagian tubuhnya yang tidak dimakan oleh raja . Dengan sombong raja berkata “Ha,..ha,..ha,.. jangankan sejengkal, kamu minta satu alun alun pasti akan kuturuti permintaanmu!” Aji Saka lalu merebahkan tubuhnya ditanah dan meminta sang raja untuk mengukur panjang tubuhnya.

Prabu Dewata Cengkar mulai mengukurnya dari ujung rambut akan tetapi sudah seharian dan hampir seluas kerajaan belum juga sampai pada ujung kaki Aji Saka karena kesaktiannya. Sampai akhirnya sang raja sampai di jurang dekat lautan dan karena lengah Prabu Dewata Cengkar terjatuh dan menemui ajalnya. 
Aji Saka berhasil membunuh raja Medang Kamulyan dan memberitahukan kabar berita ini keseluruh negri. Rakyat yang mendengar berita tersebut berbondong bondong kembali ke Medang Kamulyan. Karena raja mereka telah mati akhirnya rakyat mengangkat Aji Saka sebagai raja mereka. Aji Saka menerimanya dan memberi nama Tanah Jawi (Jawa) untuk kerajaan barunya.

Aji Saka teringat pusaka yang dititipkan kepada Sembodo abdi setianya sebelum berangkat. Dia menyuruh Dora untuk mengambil pakaian yang merupakan pusakanya tersebut. Dora berangkat menemui Sembodo akan tetapi Sembodo tidak mau memberikan pusaka itu karena teringat pesan Aji Saka tuannya untuk tidak memberikan pada siapapun kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Terjadilah pertengkaran sengit karena Dora tidak mau pulang dengan tangan kosong. Sampai akhirnya perkelahian tidak terhindarkan demi menjaga amanat masing masing. 

Aji Saka mulai gelisah karena abdinya tak kunjung datang, dan diapun pergi untuk menyusulnya. Sesampainya disana, Aji Saka terkejut melihat kedua abdi setianya sudah menjadi mayat. Dia tersadar telah memberi pesan kepada Sombodo untuk menjaga pakaiannya dan pada Dora untuk mengambilnya. Sedih dan kalut menyelimuti jiwa Aji Saka sampai akhirnya dia berteriak dengan suara yang aneh dan terdengar sangat keras keseluruh negeri sampai mengguncang kahyangan.

Rakyat berdatangan menuju lokasi suara dan melihat raja mereka berada disana sambil terus berteriak aneh. Seorang rakyat bertanya pada raja mereka ada apa dengan Aji Saka hingga dia begitu kalut dan sedih sampai berteriak seperti itu.

Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa

Aji Saka bangkit dan menjelaskan teriakannya yang berbunyi :
“Hana Caraka, Data Sawala, Pada Jayanya, Maga bathanga” yang memiliki arti “Dua utusan yang saling berselisih sama kuatnya inilah mayatnya” yang sekarang menjadi aksara jawa yang kita kenal. Dia juga berpesan kepada rakyatnya untuk selalu mengingatnya karena saat itu adalah saat paling Kalut untuk Tanah Jawa.

Demikian kisah Asal Usul Tanah Jawa Dan Aksara Jawa semoga bermanfaat dan memberikan wawasan baru untuk kita dalam hal Seni Jawa Kuno

Ditulis Oleh : Baguse Narso Seni Jawa kuno, Updated at: 09.16

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Seni Jawa Kuno. Diberdayakan oleh Blogger.